Pelatih Brighton Kecewa dengan Aksi Arsenal

Pertandingan dalam olahraga selalu bisa berjalan dengan sangat dinamis. Setiap tim sebelum pertandingan sudah menyiapkan strategi yang mereka anggap akan bisa memberikan hasil terbaik ketika nanti diterapkan saat melawan rival. Tapi pertandingan bisa bergerak dengan sangat dinamis. Strategi yang awalnya disiapkan dengan penuh rasa optimis bisa tiba-tiba berubah menjadi tumpul. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menghalau gerak lawan menjadi sangat terbatas. Tapi perubahan ini tak selamanya disambut dengan baik, termasuk oleh pelatih. Beberapa pelatih setelah pertandingan selesai menyampaikan rasa kecewa mereka karena pertandingan tidak berjalan seperti anggapan mereka. Momen ini terjadi baru-baru ini ketika Brighton & Hove Albion melawan Arsenal. Pelatih mereka, Fabian Hurzeler, terlihat cukup emosi karena menanggap The Gunners menerapkan pola bemrain untuk mengulur waktu. Dia juga mengkritik kualitas wasit yang memimpin pertandingan ini.

Pelatih Brighton Marah Besar

Pelatih kepala Brighton & Hove Albion, Fabian Hurzeler, terlihat marah besar setelah pertandingan. Reaksinya terekam awak media setelah timnya yang dia latih kalah tipis dari Arsenal. The Gunners yang posisinya jauh di atas mereka di EPL hanya bisa menang tipis setelah mengakhiri pertandingan dengan mencetak gol tunggal dari Bukayo Saka. Tapi Hurzeler merasa tidak terima dengan hasil pertandingan yang dilaksanakan pada hari Rabu ini.

Pelatih asal Jerman ini merasa sangat tersinggung dengan apa yang dilihatnya dari pertandingan di hari Rabu itu. Dia menganggap pemain Arsenal bermain dengan sengaja untuk mengulur waktu. Gaya bermain ini sebenarnya bukan hal asing dalam sepakbola, tapi menurutnya pemain The Gunners melakukannya dengan berlebihan. Dia mengkritik mereka karena sebagai pemimpin klasemen, mereka justru bermain dengan sengaja membuang-buang waktu. Aksi pemain The Gunners dianggapnya tidak tepat karena tidak terjadi hanya di beberapa menit sebelum pertandingan berakhir, tapi justru dari detik pertama babak kedua dimulai.

Pertandingan ini kembali menjadi hadiah manis untuk penggemar Arsenal. Bukayo Saka berhasil mencetak gol penentu dalam pertandingan ini setelah mereka bermain 9 menit melawan Burung Camar. Tapi banyak media menyorot pertandingan ini karena sering kali laga harus dijeda karena tim medis harus masuk untuk memberikan perawatan bagi kiper Arsenal, David Raya. Ada juga beberapa momen lain ketika pertandingan harus dijeda, sepertinya yang menjadi dasar bagi Hurzeler untuk mengkritik gaya The Gunners menjalani pertandingan ini.

Pelatih Brighton Kritik Gaya Bermain Arsenal

Sebenarnya, Hurzeler sudah tahu kalau The Gunners bisa jadi bermain dengan pola seperti ini. Mereka sudah mempelajari cara bermain The Gunners terutama di pojok lapangan sebleum pertandingan yang digelar di tengah minggu tadi. Tapi pelatih Brighton tadi tak bisa menahan rasa marahnya pada rival mereka setelah dinyatakan kalah dalalm pertandingan ini.

Kepada media, dia mengatakan kalau dalam pertandingan ini jela hanya ada satu tim yang mencoba untuk bermain sepakbola. Dia kemudian menyinggung peristiwa yang terjadi dalam pertandingan ini. Menurutnya tidak pernah ada seorang kiper yang mengalami cedera sampai 3 kali dalam satu pertandingan. Dia meminta kepada semua pemainnya untuk meningkatkan dan fokus pada performa mereka. Tidak ada yang bisa mengendalikan aksi yang bisa dilakukan oleh lawan mereka. Dia sudah menegaskan hal ini kepada semua pemainnya sebelum pertandingan dimulai.

Saka Antarkan Arsenal Menang

Kritik tentang pertandingan ini rupanya tidak hanya dilontarkan pelatih Brighton tadi kepada Arsenal. Menurut sumber dari link alternatif 12Bet yang mengutip pernyataannya, Hurzeler juga menyinggung pihak Liga Primer Inggris. Dia meminta pihak pengatur kompetisi untuk turun tangan dan membuat kebijakan yang secara khusus mengatur langkah yang harus diambil ketika taktik semacam ini terjadi di lapangan.

Dia menegaskan kalau seharusnya klub-klub tidak perlu mengkhawatirkan hal semacam ini. Mereka harus berfokus pada diri sendiri dan usaha untuk bisa menang. Mereka yang menyelenggarakan Liga Primer yang seharusnya mengantisipasi hal semacam ini dan membuat kebijakan terkait untuk mencegah taktik semacam ini terjadi. Menurutnya ada terlalu banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia yang seharusnya bisa berjalan dengan lebih efektif.

Dia melanjutkan kalau saja wasit yang memimpin pertandingan mengiyakan semuanya untuk terjadi, maka yang terjadi adalah pertandingan berjalan dengan aturan wasit, bukan kompetisi atau norma umum lain dalam sepakbola. Sulit untuk mengkritik wasit karena tindakan yang mereka ambil. Dia juga menyebut kalau dia tidak akan mau menjadi pelatih seperti yang dilakukan lawannya yang mencoba untuk menang dengan cara seperti tadi.

Pelatih Brighton tadi juga melontarkan kritik lain tentang pertandingan ini. Mereka tidak hanya merasa dirugikan dari taktik Arsenal yang dinilai dengan sengaja membuang-buang waktu. Tapi tim tuan rumah dalam pertandingan ini juga merasa kalau mereka seharusnya mendapatkan penalti akibat pelanggaran yang dilakukan Gabriel Martinelli pada Mats Wieffer, persis sebelum babak pertama berakhir. Hal ini disampaikan langsung oleh Hurzeler. Ketika ditanya media, dia dengan tegas menyampaikan kalau mereka seharusnya mendapatkan penalti untuk insiden tersebut. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan ketika wasit menganggap insiden ini masih belums cukup untuk berujung dengan kartu merah. Akhirnya mereka mau tidak mau harus menerima keputusan ini.

Di malam ketika Manchester City gagal mengejar ketertinggalan mereka setelah ditahan imbang 2-2 oleh Nottingham Forest di Stadion Etihad, Arsenal mungkin tidak akan terlalu ambil pusing dengan sikap emosional pelatih Brighton tadi. Posisi mereka sekarang semakin aman di puncak dengan mencatatkan selisih 7 poin dengan tim Pep Guardiola yang berada persis di bawahnya.

Mengamankan posisi di puncak di fase kompetisi seperti sekarang menjadi prioritas Arsenal. The Gunners harus bisa terus mempertahankan hasil inni kalau mereka ingin mengakhiri musim ini dengan menjadi juara. Target ini jelas mereka patok dari awal. Menang dalam kompetisi ini akan menjadi kado manis yang mengakhiri penantian panjang mereka untuk menjadi juara komepetisi.

Dengan 7 poin yangs memisahkan mereka dalam persaingan menuju juara, tim asal London ini menjadi pemenang besar dalam hari Rabu tadi. Dua tim yang sudah lama menjadi rival ini sama-sama berjuang untuk bisa mendapatkan poin maksimal. Meski Arsenal memainkan 1 pertandingan lebih banyak dari tim Pep Guardiola, mereka berpotensi kehilangan poin pada tanggal 19 April nanti ketika dua tim besar ini bertemu di Etihad. Sebelum pertandingan ini, Mikel Arteta harus mengatur tim agar mereka bisa terus mendapat poin maksimal dari semua pertandingan.